Minggu, 28 Desember 2008

PROFILE PONDOK PESANTREN TAHFIDZUL QUR’AN AL-HASAN PATIHAN WETAN BABADAN
PONOROGO

A. Sejarah Singkat
Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an ( PPTQ ) Al-Hasan merupakan satu-satunya pondok pesantren yang mendalami Al–Qur’an di Patihan Wetan Babadan Ponorogo. Para masyarakat sekitar mengiginkan adanya pesantren yang mengkaji dan mendalami Al–Qur’an.
Ada beberapa faktor lain yang mendorong berdirinya pondok pesantren ini, diantaranya sebagai berikut
1. tidak adanya lembaga pendidikan yang khusus mendalami Al-Qur’an baik ditingkat dasar maupun tingkat lanjutan di Patihan Wetan Babadan Ponorogo.
2. Keinginan dari tokoh- tokoh masyarakat agar didirikannya suatu lembaga yang mendalami Al-Qur’an agar anak –anak mereka tidak jauh untuk mempelajari dan mendalami Al-Qur’an.
3. Adanya seorang darmawan yang mewakafkan sebagian tanahnya untuk didirikan sebuah pesantren di Patihan Wetan Babadan Ponorogo.
Dengan adanya beberapa faktor diatas, maka segera diadakan musyawarah antar tokoh masyarakat di Patihan Wetan untuk mendirikan sebuah pondok pesantren yang khusus mendalami Al-Qur’an, yang bernama Bapak H. Khomari Hasan. mewakafkan sebagai tanahnya untuk dijadikan pesantren. Sebagian lagi merupakan tanah wakaf dari Bapak KH Husein ali yang merupakan pengasuh pesantren ini. Berkat respon masyarakat yang sangat antusias dalam jangka waktu yang tidak lama resmi berdirilah Pondok Pesantren Tafidzul Qur’an Al- Hasan pada tanggal 2 Juli 1984. Pada awal pesantren ini hanya memiliki dua buah bangunan baik santri putra maupun santri putri berada dalam suatu lokasi yang hanya dibatasi oleh tembok pembatas. Dengan semakin bertambahnya santri, maka santri putri dipindahkan kesebuah utara masjid Nurul Salamah tepat dibelakang ndalem pengasuh.
Pondok pesantren ini tepatnya berada di jalan Parang Menang no. 32 desa Patihan Wetan kecamatan Babadan kabupaten Ponorogo. Pesantren ini didirikan untuk waktu yang tidak ditetukan lamanya. Berdasarkan anggaran dasarnya pesantren ini mempunyaiu tujuan sebagai berikut :
1. Menanamkan nilai – nilai keagamaan agar anak didik menjadi insan muslim muslimah yang bertakwa kepada Allah swt dan memiliki wawasan agama yang luas serta berakhlak sesuai dengan Al-Quar’an dan sunah.
2. Meningkatkan kemampuan dan ketrampilan anak dalam menguasai Al-Qur’an dan mampu mengembangkannya dimasyarakat.
3. Untuk memasyarakatkan Al-Qur’an dan mengqur’ankan masyarakat sebagaimana hadist nabi SAW:
خيركم من تعلم القران وعلمه (رواه البخارى)
Artinya : ” Sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkanya”. (HR. Bukhori).

B.Struktur Organisasi
1. Struktur Organisasi Pondok Pesantren Tafidzu Al-Qur’an Patihan Wetan Babadan ponorogo Periode 2007 / 2008 adalah sebagai berikut :














STRUKTUR ORGANISASI.
PPTQ AL- HASAN PATIHAN WETAN BABADAN PONOROGO
PERIODE 2007 / 2008


Keterangan :
____________ Garis Komondo
- - - - - - - - - - - Garis Konsultasi

2. Guru-guru Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al-Hasan Patihan Wetan Babadan Ponorogo tahun pelajaran 2007 / 2008 sebagai berikut :
Nama Jabatan
K.H Husein Ali, MA
Ust. Musyafirin
Ust. Jufroni
Ust. Rifa’i
Ust. Tolibin
Ust. Ikhsan
Ust. Nawawi Pengasuh

Guru

Guru

Guru

Guru

Guru

Guru


Para guru-guru di pesantren ini pada umumnya adalah santri-santri senior yang telah beberapa tahun mengabdi dan telah menguasai ilmu-ilmu yang berhubungan dengan Al- Qur’an serta telah hafal Al-Qur’an.

3. Keadaan Santri putra Pondok Pesantren Tahfidzu Al-Qur’an Al-Hasan Patihan Wetan Babadan Ponorogo Tahun pelajaran 2007 / 2008
No Santri Jumlah
1.
2. Bil Ghoib
Bin Nadlor 34 orang
28 orang


C. Sarana Prasarana
1. Letak Geografis
Secara geografis Pondok Pesantren Tahfidzu Al-Qur’an Al-Hasan terletak di Jln. Parang Menang No 32 Desa Patihan Wetan Kecamatan Babadan Kabupaten Ponorogo.
Adapun batas-batasnya adalah sebagai berikut :
1. Sebelah barat berbatasan dengan tanah milik Bapak H. Komari Hasan dan tanah milik Bapak Haris
2. Sebelah timur berbatasan dengan tanah milik Bapak Teguh
3. Sebelah Selatan berbatasan dengan tanah milik Bapak Mari
4. Sebelah Utara bebatasan dengan tanah milik Bapak Joni Arifin
2. Sarana Prasarana yang dimiliki
Dalam melaksanakan proses pembelajaran pesantren ini telah memiliki bangunan sendiri sebanyak dua buah, yang terdapat beberapa ruangan.
Adapun ruangan –ruangan yang ada di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Hasan Patihan Wetan adalah sebagai berikut :
1. Ruang Kelas : 4 Ruang
2. Masjid : 1 Buah
3. Kamar : 9 Buah
4. Kantor : 1 Ruang
5. Ruang Komputer : 1 Ruang
6. Ruang Guru : 1 Ruang
7. Gudang : 1 Ruang
8. Dapur Umum : 1 Ruang
9. Tempat parker : 2 Tempat
10. Wc Guru : 2 Ruang
11. Wc Santri : 4 Ruang
Disamping itu masih ada beberapa peralatan perlengkapan untuk membantu lancarnya proses pembelajaran seperti papan tulis, meja, kursi, dan peralatan-peralatan lainnya yang telah disediakan oleh pondok pesantren.

D. Kegiatan Belajar Mengajar
1. Waktu Kegiatan
Pada awal berdirinya pesantren ini merupakan pesantren yang mengkhususkan pada pendalaman Al-Qur’an. Pada perkembangannya pesantren ini juga mengkaji kitab-kitab salaf karya ulama abad 20 atau yang lebih dikenal dengan kitab kuning dengan system klasikal.
Proses kegiatan belajar mengajar yang berlangsung di pondok pesantren Tahfidzu Al-Qur’an Al-Hasan patihan wetan Babadan Ponorogo dimulai setelah sholat maghrib, dilanjutkan setelah sholat isya’ dan setelah sholat subuh. Pada siang hari di pesantren ini tidak ada kegiatan belajar mengajar, karena pada umumnya para santri mengikuti kegiatan belajar mengajar diluar pesantren, mulai tingkat SLTP, sampai Perguruan Tinggi.

a. Kegiatan setelah sholat maghrib
Setelah sholat maghrib kegiatan di pesantren ini dimulai bagi santri bil ghoib setelah sholat maghrib diwajibkan taktor, yaitu mengulang kembali hafalan yang telah dikuasainya. Tujuannya agar para santri bil ghoib lebih menguasai hafalannya.
Bagi santri bin nadlaor diwajibkan mengaji saragan Al-Qur’an kepada para ustadz yang telah ditentukan, mulai setelah jama’ah maghrib sampai masuk waktu sholat isya’
b. Kegiatan setelah sholat isya’
Setelah jama’ah isya’ para santri bil Ghoib melakukan takrar kembali atau menambah hafalan baru untuk disetorkan pada waktu sorogan kepada pengasuh setelah jama’ah subuh. Bagi santri bin Nadlor diwajibkan mengikuti Madrasah Diniah di Pondok, karena di pondok ini juga ada madrasah dinniahnya yang bernama Madrasah Riyadlotus Subban.
Madrasah ini pada awalnya dikhususkan bagi bagi santri-santri-santrii bin nadlor, akan tetapi bagi santri santri bil Ghoib juga diperbolehkan mengikuti kegiatan belajar mengajar di pesantren ini. Materi-materi yang diberikan merupakan materi kitab – kitab salaf yang lebih dikenal dengan kitab kuning karya ulama-ulama salaf pada zaman pertengahan. Kepintaran dan kemahiran seorang santri diukur dari kemampuannya membaca serta megarahkan dan menjelaskan isi kandungan kitab-kitab tersebut. Agar bisa membaca dan memahami suatu kitab dengan benar, seorang santri dituntut untuk memehami dengan baik ilmu-ilmu bantu seperti nahwa, sharaf, balaghah dan lain-lain.
Karena sedemikian tinggi posisi kitab-kitab islam klasik, maka setiap pesantren selalu mengajarkan kitab-kitab kuning karya ulama salaf. Kendati sekarang telah banyak pesantren memasukkan pelajaran umum, namun kitab-kitab klasik tetap diindahkan.
Disamping mengkaji kitab-kitab kunig madrasah ini juga mengkaji ilmu-ilmu agama yang diambil dari luar kitab-kitab kuning, yaitu ilmu agama yang diambil dari kitab-kitab berbahasa Arab yang disusun oleh ulama –ulama yang tergolong mutakhir, misalnya mahmud yunis, K.H Imam Zarkasi, Umar Bakri dan lain-lain.
Adapun mata pelajaran yang ada di Madrasah Riyadlotus Subbah secara rinci adalah sebagai berikut:
Kelas I
No Nama Mata Pelajaran
1.
2.
3.
4.
5. Syarbawi
Amsilah Al-Tasrifiyyah
Badi’ Al – arnali
Tanbihu Al- Muto’alim
Sifa’li Al- Jinan
Kelas II
No Nama Mata Pelajaran
1.
2.
3.
4.
5.
6. Matan Al-jurumiyyah
Kowait Al-sorfiyyah
Jawahirul Al-kalamiyyah
Wasoya
Mabadi’u Al-fiqhiyyah Jus 3 dan 4
Bidayah Al-mustafidah
Kelas III
No Nama Mata Pelajaran
1.
2.
3.
4.
5. Takrirat Al-jurumiiyah
Takrirat Al-kawaidus Sarfiyyah
Ta’lim Al-muta’alim
Riyaad Al-badiah
Tijan Al-barary
Kelas IV
1.
2.
3.
4. Al-imrity
Nadzam Al-maksuud
Minah Al-fikriyyah
Takriib
Di madrasah ini tidak hanya santri pondok saja yang boleh mengikuti kegiatan belajar mengajar, akan tetapi terbuka lebar bagi siapa saja yang ingin belajar juga diperbolehkan, dengan syarat mendaftarkan diri terlebih dahulu.
c. Kegiatan setelah sholat subuh
Semua santri baik bin Nadlor maupun bil Ghoib diwajibkan untuk mengaji sorogan Al-Qur’an kepada pengasuh. Sorogan ini dilaksanakan dengan cara maju empat orang empat orang hingga selesai. Pada waktu sebelum sorogan para santri diharuskan mengisi absen terlebih dahulu dan membawa kartu tanda santri ( KTS ). Sorogan ini dimulai setelah selesai jama’ah sholat subuh sampai selesai kira-kira pukul 06.00 BBWI.

2. Metode yang digunakan dalam proses belajar mengajar.
Metode merupakan alat pendidikan untuk mencapai suatu tujuan dalam menyampaikan pengetahuan terhadap anak didik. Tentunya membutuhkan metode yang efektif dalam mentransfer ilmu kepada anak didik. Untuk lebih jelas akan penulis ketengahkan mengenai arti metode.
Metode adalah cara praktis untuk menyampaikan pelajaran kepada murid. Ada yang memberi makna, metode adalah jalan yang diikuti untuk memberi kepahaman kepada anak dalam berbagai bidang studi. Adalagi yang mengatakan adalah rentetan kegiatan yang terarah bagiguru. Yang menyebabkan proses timbulnya belajar mengajar sehingga murid menjadi terkesan.
Pada intinya dalam proses kegiatan belajar mengajar guru harus memutuskan metode secara jelas sebelum memutuskan dalam memilih metode yang tepat. Ketidak jelasan dalam tujuan yang akan menyebabkan kesulitan untuk menentuakan metode yang cocok dan tepat.
Oleh karena itu didalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar sangat diperlukan sosok pengajar atau pendidik yang professional, yang mana mereka itu telah dibekali dengan pengetahuan dan kemampuan serta kecakapan, bakat dan minat yang cukup.
Di pondok pesantren Tahfidzu Al-Qur’an Al-Hasan Patihan Wetan Babadan Ponorogo dalam proses belajar mengajar masih menggunakan metode klasik, diantaranya metode ceramah. Metode ceramah adalah suatu metode dalam pendidikan dimana cara menyampaikan pengertian materi kepada peserta didik dengan jalan menerangkan, menjelaskan dan memahamkan cara penuturan secara lisan.
Disamping metode ceramah masih ada metode klasik yang banyak digunakan pesantren – pesantren di Indonesia, yaitu metode sorogan. Metode sorogan ini sangat efisien untuk meningkatkan kreatifitas anak didik, karna pada metode ini pendidik hanya mengawasi peserta didik dan memberikan pengarahan apabila dalam penyampaian materi ada yang kurang atau tidak tepat. Jadi peserta didik dituntut untuk selalu berusaha sebaik mungkin dalam menguasai dan menyampaikan materi kepada pendidik. Hal seperti ini dapat mendorong peserta didik untuk lebih aktif dalam belajar dan menanyakan kepada orang lain apabila ada hal-hal yang dirasa masih janggal atau kurang dapat dipahami. Untuk itulah pesantren – pesantren di Indonesia masih banyak yang mengandalkan metode ini, karena dianggap paling efektif dan efesien.

Related Posts by Categories



0 komentar:

Posting Komentar

tinggalkan anda